hellooooohaa! akhirnya saya kesempetan juga buat ngepost eternia lagi, hehe. ini dia lanjutannya. enjoy reading it
—————————————————————————————–
“Hoaaaahmm..,” Wizzle menguap. Ketika dia membuka matanya dia melihat padang rumput didepannya begitu indah dibandingkan tadi malam. Sejenak ia hampir melupakan masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sempat ia berpikir untuk tetap tinggal di Eternia. Tapi ketika ia mengingat keluarga dan neneknya, keinginan itu hilang seketika. Dia menoleh kesebelah kanannya, disana Rycraft dan Eunice masih tertidur lelap.
“Harus cari cara untuk bisa kembali!” seru Wizzle sambil meloncat dari duduknya. Lalu dia mencoba membaca kembali buku tua itu. Tiba-tiba ada suara yang sangat lembut terdengar dari sebelah Wizzle, “Kau sedang apa?”
Wizzle agak kaget dan dengan cepat menoleh ke arah suara itu. “Ternyata kau Eunice, kau membuatku kaget saja,” kata Wizzle.“Aku sedang membaca buku ini, mungkin saja kita bisa mendapatkan sebuah petunjuk dari sini.”
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Sebenarnya darimana kau mendapatkan buku ini?” tanya Eunice sambil mengambil buku itu dari tangan Wizzle dan membuka-buka buku itu.
Wizzle diam sejenak. Ia berusaha mengumpulkan kata-kata yang akan dia ucapkan. Wajahnya menggambarkan kalau dia sedang berpikir keras untuk mengingat memori itu. Eunice masih menunggu Wizzle untuk menceritakannya. Dan akhirnya Wizzle pun membuka mulutnya dan mulai berbicara.
“Aku mendapatkannya dari nenekku saat aku berumur 7 tahun. Nenekku selalu menceritakan kisah di buku ini. Dia bercerita seakan-akan dia memang pernah datang ke Eternia. Dan waktu itu dia pernah bilang, kau akan kesana Wizzle sayang. Aku sangat senang mendengar kata-katanya itu. Tapi sekarang aku mulai takut. Andai saja aku bisa memutar waktu,” Wizzle langsung menunduk.
“Sudahlah, yang sudah terjadi, terjadilah. Apa boleh buat, kita sudah disini. Kita jalani saja dulu. Apa salahnya kita berpetualang disini? Aku yakin keluargamu baik-baik saja disana,” kata Eunice sambil menepuk bahu Wizzle.
“Oh ya, orang tuamu bagaimana? Apa mereka tidak akan khawatir?” tanya Wizzle.
“Orang tuaku sudah meninggal, padahal hari ini aku dan kakakku merencanakan untuk datang ke makam mereka, tapi malah terdampar disini. Hahahahaha,” jawab Eunice.
“Andai saja aku tahu orang tuamu telah wafat, aku tidak akan menanyakan hal selancang itu. Ngomong-ngomong kakakmu kemana?” tanya Wizzle.
“Tidak apa-apa, Wizzle. Oh, maksudmu Rycraft? Kupikir dia sedang pergi ke sungai untuk minum, mungkin dia sebentar lagi kembali,” jawab Eunice.
“Ngomong-ngomong, di bukuku tertulis sungai itu bernama Sungai Edugris. Eh, apa tidak berbahaya baginya pergi sendirian di sini? Kita kan tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi disini.” Ujar Wizzle khawatir kepada Eunice.
“Begitukah menurutmu? Ya, aku rasa ucapanmu itu memang benar, tapi kita juga jangan terlalu mencurigai dunia ini. Bagaimana pun, kita tidak tahu apa-apa tentang Eternia kecuali apa yang bisa kita baca dari bukumu itu. Biarlah Rycraft pergi sendiri, dia selalu menganggap dirinya pemberani. Mungkin saja dia tidak akan suka kita temani. Menurut Rycraft, hanya anak perempuan yang pantas ditemani kemana-mana.” Kata Eunice kepada Wizzle sambil tertawa renyah.
Ah, ternyata gadis ini lumayan enak diajak bicara juga, pikir Wizzle. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka yang menyenangkan itu di pagi yang masih menampakkan semburat fajar keemasan.
Ketika mereka tengah membicarakan kelinci yang dibelikan orang tua Eunice untuknya, tiba-tiba terdengar suara Rycraft memanggil mereka berdua dari arah sungai, “Hey! Kemarilah! Aku menemukan pohon buah-buahan disini!” Dengan segera, Eunice dan Wizzle menghampiri Rycraft.
“Ayo kita petik buah-buahan ini. Aku sangat lapar.” Kata Rycraft kepada mereka berdua.
“Hey, jangan asal petik dulu. Bagaimana kalau buah-buahan ini beracun?” Protes Eunice kepada kakaknya.
“Benar juga kau, Eunice. Hahaha, adikku ini memang selalu saja pintar. Hey Wizzle, adakah keterangan tentang buah-buahan ini di bukumu itu?”
“Hmm, coba aku lihat dulu. Di buku ini tertulis bahwa setiap buah yang terdapat garis-garis ungu di kulitnya itu beracun. Sisanya boleh dimakan.” Jawab Wizzle.
“Bagus sekali. Tak satupun dari buah-buah ini yang ada garis-garis ungunya. Ayo kita makan!” Ketiga anak itu memetik buah dan memakannya sepuasnya. Setelah mereka merasa cukup kenyang, Wizzle dan Eunice melanjutkan percakapan mereka kembali. Kali ini Rycraft ikut bergabung bersama mereka.
“Kalian tahu, menurutku, sebaiknya kita jangan terus berdiam di sini. Kita harus menemukan jalan keluar dari dunia ini. Memang sih, pemandangan di sini indah, tapi lama-lama, aku semakin kangen pada nenekku.” Kata Wizzle kepada kakak-beradik itu.
“Ya, aku sependapat denganmu. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Tidakkah ada petunjuk untuk keluar dari sini di bukumu itu?” Tanya Eunice.
“Aku sudah membaca buku ini puluhan kali, tapi tak pernah ditulis di sini bagaimana caranya keluar dari Eternia.”
“Lantas, apa yang terjadi dengan tokoh utama di bukumu itu?” Tanya Rycraft.
“Mereka tinggal di sini sebagai raja dan ratu. Lalu, ya seperti yang biasanya kau baca di buku-buku cerita. Mereka hidup bahagia selamanya.” Jawab Wizzle.
“Asyik sekali kalau itu yang terjadi pada kita. Tapi aku ingin kembali ke Inggris.” Ucap Eunice.
“Kita akan menemukan jalan pulang. Aku yakin. Aku rasa, kita tidak terdampar di Eternia begitu saja. Pasti ada sesuatu di dunia ini yang berhubungan dengan kita sehingga akhirnya kita terlempar ke sini. Apapun itu, kita harus mencari tahu dan secepatnya keluar dari sini.” Kata Rycraft kepada adiknya.
“Hm, baiklah. Bagaimana kalau kita berjalan ke Auldrant saja?” usul Wizzle.
“Tempat apa pula lah itu?” tanya Eunice keheranan.
“Di sanalah terletak Kastil Chaetura, dimana Raja Kyrios bersemayam. Kira-kira begitulah yang dituliskan di buku ini.”
“Lantas, kalau kita telah sampai di Auldrant, apa yang akan kita lakukan?” tanya Rycraft.
Kita bisa meminta petunjuk Raja Kyrios dan Permaisuri Mariama yang bijaksana. Siapa tahu mereka bisa menolong kita kembali ke Inggris.”
“Jadi, kita akan ke Auldrant. Sebaiknya kita bersiap-siap dari sekarang. Bagaimana kalau kita berangkat besok siang saja?” kata Rycraft.
“Oke. Aku setuju. Nah, sekarang bantu aku mengumpulkan buah-buah untuk bekal perjalanan kita.” ujar Eunice. Rycraft yang begitu tangkas menggunakan pisau lipat Wizzle untuk menguliti bangkai rusa yang ia temukan di pinggir Sungai Edugris. Kulit itu mereka gunakan untuk membawa buah-buah yang akan mereka bawa. Di penghujung hari, mereka semua sudah kelelahan mencari dan menyiapkan perbekalan mereka. Sebelum Bintang Khanofa bersinar terang di atas kepala mereka, ketiga anak manusia itu sudah tertidur nyenyak.