Feeds:
Tulisan
Komentar

hellooooohaa! akhirnya saya kesempetan juga buat ngepost eternia lagi, hehe. ini dia lanjutannya. enjoy reading it ;)

—————————————————————————————–

“Hoaaaahmm..,” Wizzle menguap. Ketika dia membuka matanya dia melihat padang rumput didepannya begitu indah dibandingkan tadi malam. Sejenak ia hampir melupakan masalah yang sedang dihadapinya sekarang. Sempat ia berpikir untuk tetap tinggal di Eternia. Tapi ketika ia mengingat keluarga dan neneknya, keinginan itu hilang seketika. Dia menoleh kesebelah kanannya, disana Rycraft dan Eunice masih tertidur lelap.

“Harus cari cara untuk bisa kembali!” seru Wizzle sambil meloncat dari duduknya. Lalu dia mencoba membaca kembali buku tua itu. Tiba-tiba ada suara yang sangat lembut terdengar dari sebelah Wizzle, “Kau sedang apa?”

Wizzle agak kaget dan dengan cepat menoleh ke arah suara itu. “Ternyata kau Eunice, kau membuatku kaget saja,” kata Wizzle.“Aku sedang membaca buku ini, mungkin saja kita bisa mendapatkan sebuah petunjuk dari sini.”

“Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Sebenarnya darimana kau mendapatkan buku ini?” tanya Eunice sambil mengambil buku itu dari tangan Wizzle dan membuka-buka buku itu.

Wizzle diam sejenak. Ia berusaha mengumpulkan kata-kata yang akan dia ucapkan. Wajahnya menggambarkan kalau dia sedang berpikir keras untuk mengingat memori itu. Eunice masih menunggu Wizzle untuk menceritakannya. Dan akhirnya Wizzle pun membuka mulutnya dan mulai berbicara.

“Aku mendapatkannya dari nenekku saat aku berumur 7 tahun. Nenekku selalu menceritakan kisah di buku ini. Dia bercerita seakan-akan dia memang pernah datang ke Eternia. Dan waktu itu dia pernah bilang, kau akan kesana Wizzle sayang. Aku sangat senang mendengar kata-katanya itu. Tapi sekarang aku mulai takut. Andai saja aku bisa memutar waktu,” Wizzle langsung menunduk.

“Sudahlah, yang sudah terjadi, terjadilah. Apa boleh buat, kita sudah disini. Kita jalani saja dulu. Apa salahnya kita berpetualang disini? Aku yakin keluargamu baik-baik saja disana,” kata Eunice sambil menepuk bahu Wizzle.

“Oh ya, orang tuamu bagaimana? Apa mereka tidak akan khawatir?” tanya Wizzle.

“Orang tuaku sudah meninggal, padahal hari ini aku dan kakakku merencanakan untuk datang ke makam mereka, tapi malah terdampar disini. Hahahahaha,” jawab Eunice.

“Andai saja aku tahu orang tuamu telah wafat, aku tidak akan menanyakan hal selancang itu. Ngomong-ngomong kakakmu kemana?” tanya Wizzle.

“Tidak apa-apa, Wizzle. Oh, maksudmu Rycraft? Kupikir dia sedang pergi ke sungai untuk minum, mungkin dia sebentar lagi kembali,” jawab Eunice.

“Ngomong-ngomong, di bukuku tertulis sungai itu bernama Sungai Edugris. Eh, apa tidak berbahaya baginya pergi sendirian di sini? Kita kan tidak pernah tahu apa yang mungkin terjadi disini.” Ujar Wizzle khawatir kepada Eunice.

“Begitukah menurutmu? Ya, aku rasa ucapanmu itu memang benar, tapi kita juga jangan terlalu mencurigai dunia ini. Bagaimana pun, kita tidak tahu apa-apa tentang Eternia kecuali apa yang bisa kita baca dari bukumu itu. Biarlah Rycraft pergi sendiri, dia selalu menganggap dirinya pemberani. Mungkin saja dia tidak akan suka kita temani. Menurut Rycraft, hanya anak perempuan yang pantas ditemani kemana-mana.” Kata Eunice kepada Wizzle sambil tertawa renyah.

Ah, ternyata gadis ini lumayan enak diajak bicara juga, pikir Wizzle. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka yang menyenangkan itu di pagi yang masih menampakkan semburat fajar keemasan.

Ketika mereka tengah membicarakan kelinci yang dibelikan orang tua Eunice untuknya, tiba-tiba terdengar suara Rycraft memanggil mereka berdua dari arah sungai, “Hey! Kemarilah! Aku menemukan pohon buah-buahan disini!” Dengan segera, Eunice dan Wizzle menghampiri Rycraft.

“Ayo kita petik buah-buahan ini. Aku sangat lapar.” Kata Rycraft kepada mereka berdua.

“Hey, jangan asal petik dulu. Bagaimana kalau buah-buahan ini beracun?” Protes Eunice kepada kakaknya.

“Benar juga kau, Eunice. Hahaha, adikku ini memang selalu saja pintar. Hey Wizzle, adakah keterangan tentang buah-buahan ini di bukumu itu?”

“Hmm, coba aku lihat dulu. Di buku ini tertulis bahwa setiap buah yang terdapat garis-garis ungu di kulitnya itu beracun. Sisanya boleh dimakan.” Jawab Wizzle.

“Bagus sekali. Tak satupun dari buah-buah ini yang ada garis-garis ungunya. Ayo kita makan!” Ketiga anak itu memetik buah dan memakannya sepuasnya. Setelah mereka merasa cukup kenyang, Wizzle dan Eunice melanjutkan percakapan mereka kembali. Kali ini Rycraft ikut bergabung bersama mereka.

“Kalian tahu, menurutku, sebaiknya kita jangan terus berdiam di sini. Kita harus menemukan jalan keluar dari dunia ini. Memang sih, pemandangan di sini indah, tapi lama-lama, aku semakin kangen pada nenekku.” Kata Wizzle kepada kakak-beradik itu.

“Ya, aku sependapat denganmu. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Tidakkah ada petunjuk untuk keluar dari sini di bukumu itu?” Tanya Eunice.

“Aku sudah membaca buku ini puluhan kali, tapi tak pernah ditulis di sini bagaimana caranya keluar dari Eternia.”

“Lantas, apa yang terjadi dengan tokoh utama di bukumu itu?” Tanya Rycraft.

“Mereka tinggal di sini sebagai raja dan ratu. Lalu, ya seperti yang biasanya kau baca di buku-buku cerita. Mereka hidup bahagia selamanya.” Jawab Wizzle.

“Asyik sekali kalau itu yang terjadi pada kita. Tapi aku ingin kembali ke Inggris.” Ucap Eunice.

“Kita akan menemukan jalan pulang. Aku yakin. Aku rasa, kita tidak terdampar di Eternia begitu saja. Pasti ada sesuatu di dunia ini yang berhubungan dengan kita sehingga akhirnya kita terlempar ke sini. Apapun itu, kita harus mencari tahu dan secepatnya keluar dari sini.” Kata Rycraft kepada adiknya.

“Hm, baiklah. Bagaimana kalau kita berjalan ke Auldrant saja?” usul Wizzle.

“Tempat apa pula lah itu?” tanya Eunice keheranan.

“Di sanalah terletak Kastil Chaetura, dimana Raja Kyrios bersemayam. Kira-kira begitulah yang dituliskan di buku ini.”

“Lantas, kalau kita telah sampai di Auldrant, apa yang akan kita lakukan?” tanya Rycraft.

Kita bisa meminta petunjuk Raja Kyrios dan Permaisuri Mariama yang bijaksana. Siapa tahu mereka bisa menolong kita kembali ke Inggris.”

“Jadi, kita akan ke Auldrant. Sebaiknya kita bersiap-siap dari sekarang. Bagaimana kalau kita berangkat besok siang saja?” kata Rycraft.

“Oke. Aku setuju. Nah, sekarang bantu aku mengumpulkan buah-buah untuk bekal perjalanan kita.” ujar Eunice. Rycraft yang begitu tangkas menggunakan pisau lipat Wizzle untuk menguliti bangkai rusa yang ia temukan di pinggir Sungai Edugris. Kulit itu mereka gunakan untuk membawa buah-buah yang akan mereka bawa. Di penghujung hari, mereka semua sudah kelelahan mencari dan menyiapkan perbekalan mereka. Sebelum Bintang Khanofa bersinar terang di atas kepala mereka, ketiga anak manusia itu sudah tertidur nyenyak.

Yang muda
Yang berkaus nikmat

Yang muda
Yang berhati egois

Yang muda
Yang berseragam laku demi gengsi

Yang muda
Yang pelita hatinya meredup

Masa yang kini terlampau jauh dengan yang dulu
Terlewat kontras, dan ini menyedihkan
Adakah kau rasa, wahai para pewaris bangsa
Laku kalian tlah menyimpang dari jalan lurus

Yang muda
Berbaju pun tiada

Yang muda
Peduli dan ramah

Yang muda
Seragam untuk berjuang

Yang muda
Cahaya nuraninya berpendar begitu kuat

Bandingkanlah perlahan
Kalian sama, kalian muda
Kalian beda, beda masa
Dulu membangga, kini mengelak
Padahal kalian sama, kalian muda

Para muda terdahulu,
memondasi akar negara dengan tiap peluh,
mengokohkan tiap penjuru nusantara dengan otot kekar,
menghempas segala pengganggu asing dengan tekad
Jiwa bambu runcing mereka,
menghujam lalu menghunus serta menusuk pula
Tiada menghela sedetik jua, terus bersiaga
Tewas seakan menempel jadi bayang,
namun api kemerdekaan terlanjur abadi membakar mereka
Padahal kalian sama, kalian muda

Perhatikan sekelilingmu, para muda terkini
Mana hasil kesusahpayahan pendahulumu, hah?
Ditelan kah? Dilenyap kankah?
Kalian simpan dimana api abadi itu?
Karna dada kalian hampa, kosong melompong
Kalian enak, kalian terbahak, kalian terlena
Namun sifat kalian NOL BESAR!

Tak ada kegundahan, segala damai
Kalian berleha-leha, terlalu polos
Lalu siapa yang ‘kan merehabilitasi bangsa ini?
Padahal kalian sama, kalian muda

Pemuda masa kini yang ‘budiman’,
mari kita gali sesuatu yang hilang dari bumi Indonesia,
yakni semangat perjuangan abadi para mudanya
Ayo kita tambali tembok-tembok negara yang bolong digerogoti
Dan yakinlah, tuas para muda takkan pernah berganti,
sebagai penjunjung utama dari zamrud khatulistiwa.

25-10-’09

setelah penantian selama tiga kali puasa tiga kali lebaran, PJ Siluet yang baru akhirnya berhasil menelurkan buletin baru di bulan Desember 2009. take a look at the cover!literatur ini foto cover sebelum kita edit. modelnya Sony Bintang sama Shinta Tresnasari and thanks a lot buat JEPRET! yang udah bantuin kita bikinin cover. mau tahu isi SILUET apa? makanya baca dong buletinnya!

hap! akhirnya sampailah saya pada bagian mempublikasikan diklat hari ke-3 pada dunia maya. intermezzo dulu yaa

I worried; might you
come here; i might go there;
might we meet again?
Then, at last, the bashful moon;
I slept with my door unlatched

awawawaw! sangat manis yaaaa? di atas tadi adalah terjemahan tanka yang ditulis oleh seseorang yang tak diketahui namanya dalam bahasa Inggris. tanka itu apa? itu ialah puisi Jepang. pada umumnya, tanka yang kita temui ditulis beratus-ratus tahun yang lalu. tidak seperti puisi Melayu yang woooow, berputar-putar dan rumit sekali pemaknaannya, tanka biasa dalam satu baris hanya terdiri dari 5 sampai 6 kata tapi kedalaman maknanya jangan diragukan. nah, bisa dilihat ‘kan perbedaan karakteristik orang Indonesia dengan orang Jepang lewat puisi saja? hehehehe. sudah lah, lebih baik Anda baca saja jurnal mengenai diklat ketiga. feel free to comment, readers :)

—————————————————————————————

Dan sampailah kami para peserta di hari ketiga diklat. Tapi masalah yang kuhadapi sekarang adalah aku belum membuat jurnal dan resume, ditambah karena badmood-ku sedang keluar, aku lebih sering diam dan menyendiri >.< Untungnya aku bisa menyelesaikan semua saat kumpul NK pulang sekolah walaupun materi tentang sastra belum kutulis.

Jam menunjukkan pukul 13.30, kukira akan terlambat dan dihukum karena kata teteh-teteh Lite, diklat akan dimulai pukul 13.15. Dan ternyata, baik teteh Lite maupun peserta masih menunggu yang bleum datang. Lalu akhirnya aku mengajak Riri untuk jajan dan karena Riri sedang berhalangan, aku hanya shalat sendiri. Lalu diklat pun dimulai.

Pertama diadakan games. Pada saat itu, aku pun tertawa karena kami membuat suara-suara wak-wek-wok yang sangat aneh dan dijadikan nada lagu. Walhasil, karena tertawa itu, rasa badmood-ku pun hilang. Yeah!!

Setelah itu, kami diberikan materi tentang manajemen waktu. Dengan materi itu, aku bisa lebih mengetahui bagaimana cara mengatur waktu dengan baik dan efisien. Kami disuruh membuat skala prioritas dan dikasih studi kasus dari Teh Tita dan kami disuruh memecahkan masalah itu. Sebenarnya aku bisa memanajemen waktu dengan baik. Hueee. sombong xD Tapi, seringnya jika sudah merencanakan waktu yang akan digunakan dengan matang, sering sekali kejadian-kejadian yang tak terduga seperti malas, menunda-nunda pekerjaan itu muncul dan benar-benar membuatku kesal. Awalnya memang happy-happy saja, namun ketika datang hari dimana tugas-tugas yang harus dikerjakan itu dikumpulkan dan aku belum mengerjakan tugas-tugas itu karena malas dan menunda-nunda membuatku stress dan aku tetap berusaha agar hal itu tidak sering terjadi ^_^

Terakhir, kami disuguhkan game ‘mengapa dan karena’. Kami diberikan kertas A untuk mengapa dan B untuk karena dan bagi yang pertanyaan dan jawabannya nyambung joged di depan. Untungnya aku tidak, hehe. Pokoknya hari itu aku merasa senang sekali.

Sehabis itu, aku kembali ke kosan. Malamnya aku mengerjakan tugas seperti biasa dan karena mengantuk aku pun tidur. Sekian.

ok, di bawah postingan ini ialah diklat pertama yang Literatur adakan untuk anggota keluarga baru. berikut adalah jurnal dari salah satu siswi 8Lite. kami sajikan untuk memberikan sedikit gambaran mengenai lika-liku ilmu yang kami beri untuk 8Lite. baca gratis, copas bayar :D

—————————————————————————————

Hari itu saya bangun pukul 05.00. Seperti biasa, saya shalat Subuh terlebih dahulu. Karena saya akan berangkat ke Diklat Lite hari ke-2 jam 07.00, jadi saya kembali ke kamar dan berbaring lagi sejenak. Jam 06.00, saya menyiapkan keperluan untuk diklat: alat shalat, bekal, makanan, alat tulis, dll.

Setelah sarapan, saya berangkat ke sekolah. Karena macet, saya baru sampai jam 07.30 tepat. Saya kira saya telat. Nyatanya, baru dua orang yang sampai, belum termasuk Teh Ghanis, Teh Alya dan Teh Lety. Kami menunggu hingga jam 08.00. Dan yang belum sampai tinggal Ifa dan Riri.

Akhirnya, Teh Alya memutuskan untuk segera memulai diklat. Kami diberi tahu bahwa hari itu diklat akan dilaksanakan di “tempat nenek-nenek bermain serodotan”. Kami semua langsung menebak Taman Lansia. Tapi, Teh Alya belum membenarkan. Teh Alya dkk. memberi kami tiga kesempatan untuk bertanya yes-or-no question melalui pesan singkat.

Sambil menunggu Ifa, Kania, dll, Rifa mengirimi Teh Lety yang sudah terlebih dahulu pergi ke tempat diklat. Dan ternyata jawaban kami benar. Kami segera berangkat ke Taman Lansia dengan berjalan kaki, ditemani Teh Tyas.

Jam 08.30 kami tiba di Taman Lansia. Acara pertama adalah perkenalan dengan Teh Trisit, alumni SMA 3. Kemudian kami disuruh mewawancarai orang-orang yang sedang berada di Taman Lansia mengenai apa yang mereka ketahui tentang sastra.

Setelah itu, kami disuruh untuk membuar cerpen berantai dan menampilkannya semenarik mungkin. Kebetulan, kelompok kai mendapatkan tema humor dengan kalimat pertama ‘Salim sibuk mencari…’ Kami panik, karena kami pikir kami akan ‘garing’.

Jam 12.00 diklat selesai. Buat saya ini adalah diklat pertama saya. Saya senang sekali karena Lite itu tidak membosankan :)

helloooooooooo readers!

beberapa waktu yang lalu, saya mempublikasikan jadwal Pendidikan dan Pelatihan Literatur3 untuk angkatan 8. bagaimana jalannya diklat 1? simak jurnal salah seorang siswa 8Lite berikut ini. enjoy reading :)

—————————————————————————————-Pagi ini, mata saya masih sayu. Pandangan masih kabur.  Demikian penuh dengan fenomena-fenomena yang meloncat bak reaksi dalam atom. Aku raih telfon selular, yang saya letakkan tidak jauh daru tempat saya berada. Dan saya kaget! Waktu telah menunjukkan pukul 04.47! Saya terlambat bangun! Bergegas saya keluar kamar dengan lari terburu-buru melempar segala masalah ke udara dan menghela nafas saat menyadari bahwa: air panas sudah dimasak, bekal sudah disiapkan, sarapan pun telah tersedia. Syukur alhamdulillah. Mendongak pada realita yang terjadi, saya harus berangkat pukul 05.30. Maka saya putuskan saat itu tanpa mengetok palu untuk sarapan hanya dengan sereal dan susu. Kemudian sekitar pukul 05.00 saya sudah selesai sarapan. Kembaliilah saya ke dapur kemudian menyiapkan air panas untuk mandi. Saya mempunyai kebiasaan unik. Saat mandi, saya akan memutar lagu. Fungsinya sendiri, untuk mengetahui dan mengatur waktu mandi saya. Lagu yang saya putar saat itu adalah Kissing yang dibawakan oleh Bliss, dimana berdurasi sekitar 6 menit 41 detik. Saya akhirnya selesai mandi pada pukul 05.10. Saya kembali ke kamar, mengganti pakaian dengan seragam batik. Memasukkan buku ke dalam tas. Kemudian saya laksanakan ibadah shalat subuh. Dan pada akhirnya, saya pun berangkat pada pukul 05.40. Seusai berpamitan dengan nenek saya, saya “merangkak” kembali dalam fatamorgana hidup, menyeret mimpi dan harapku untuk dibawa selalu di setiap langkahku.

Saya tiba di sekolah sekitar pukul 06.00. beberapa orang sudah menggeliat dengan aktivitasnya masing-masing. Saya letakkan amunisi perangku hari itu di atas meja. Kurogoh beberapa buku untuk dibaca terlebih dahulu. Hari ini berlalu dengan biasa, dengan konsep yang biasa. Hal yang biasa mungkin tak usah saya ceritakan. Hanya melepas aroma angker pada atmosfer.

Pukul 13.00, saya berbincang dengan Kang Zaky mengenai materi mentoring hari itu. Dan selesai pada pukul 13.45. Saya pun turun meluncur ke koridor dan berhenti di depan koridor. Di sana sudah ada teteh-teteh dari ekskul Literatur. Ya, hari ini ada diklat pertama dari Literatur. Pukul 14.15 sudah cukup banyak anggota (calon) Literatur kurang lebih lima belas orang. Kemudiam kami pindah ke 3 IPA 6 . Di sana diklat dimulai dengan pengenalan anggota kemudian perkenalan terhadap Literatur. Dikalt berakhir pukul 16.20. Saya bergegas pulang. dan baru saya sadari bahwa ada kumpul seangkatan 8 terlebih dahulu.

Setibanya di rumah, saya ganti pakaian dengan busana bebas. Hari sudah sangat sore. Saya pun sontak kaget. Kemudian segera mengambil air wudlu kemudian shalat Ashar. Syukur, saya masih belum terlambat.

Malamnya, saya online YM! Untuk melaporkan quotes ke Rifa serta chatting bersama kawan-kawan saya. Saya lakukan itu sembari mengerjakan tugas prototipe Literatur. Saya pun berhasil membuat barang mentah dan Buku Jurnal saya. Buku disampulkan setelahnya mulai saya isi sesuai dengan tugas yang diberikan. Pukul 21.00 saya hentikan seluruh aktivitas saya.  “Mematikan” syaraf kemudian berbaring dan tenggelam kembali dalam reaksi atom yang sama.

Hmm….

Kala itu hanya ada aku dan pelangiku,  pelangi yang membukakan gerbang yang sangat berwarna dalam tiap detik hidupku, kuhitung satu persatu origami itu,sehingga tumbuh menjadi seribu, yang nantinya akan menjadi pengabul pelangiku.
Malam memang sangat indah beserta jutaan bahkan mungkin milyaran bintang,sama seperti banyaknya picisan pelangi dalam benakku,namun semua itu tak serupa dengan jalan takdir ini.
Aku, gadis yang tak begitu mengenal dunia di luar sana, dunia pun sepertinya tak memberikan sedikit celah untukku, bernafas pun aku diberi belas kasihan oleh Penciptaku. Di mana aku dilahirkan,aku pun tak tahu! Yang jelas aku anak ‘Tong sampah’, itulah olok-olok dari teman senasibku disini, tempat puluhan anak yang ditinggalkan tanpa alasan oleh orang tuanya. Ya, Panti Asuhan itulah tempatku berpijak. Sedih? Aku tak pernah bersedih, aku hanya merangkaikan kesedihanku lewat kesendirianku, tak pernah aku meminta orang untuk mengasihaniku, tetapi mereka selalu ingin mengasihaniku. Enyahlah belas kasihan, aku bisa hidup tanpa itu, dengan itu aku bisa rapuh bukan menjadi kuat. Bodoh jika aku ingin mengharap sebuah belas kasihan.
Aku tak ingin menjadi benalu dalam kehidupan semua orang, aku hanya ingin menemukan picisan pelangi itu. Pelangi yang mampu menjerat segala hasrat picisan hati.

Sesuatu yang aku inginkan hanyalah HUJAN. Hujan yang mampu membawa hanyut segala derai air mataku. HUJAN yang menyimpan curahan hatiku, hujan yang membuat aku menjadi diriku. Hujan yang membiaskan masa laluku. Orang menganggapku gila karena aku hanya berdiam di sudut jendela menunggu datangnya hujan. Yang aku lakukan hanya berbicara dengan hujan, aku tak mau seorang pun mengganggu. Dunia hanya milikku dan hujan, tak mau ku berbagi dengan orang lain.
Kala itu, burung berkicau, sahut menyahut menjadi rangkaian simfoni yang menakutkan bagiku, hari cerah adalah hari yang indah untuk semua orang kecuali diriku, diriku yang takut akan keceriaan dunia yang mampu mempermainkan setiap detik waktuku, yang mampu membuat skenario yang tak terduga, membuka penderitaan dan menutup kebahagiaan, aku pun tak percaya dengan sebuah kebahagiaan, karena kebahagiaan berakhir kesemuan. Penderitaan, tak aneh bagiku, penderitaan telah menjadi sahabat bagiku, jikalau dia bertanya penderitaan, aku lantang menjawab. Ketika mereka bertanya kebahagiaan, aku hanya tertawa sinis dan pergi berlalu bagaikan gunung yang hilang tertutup kabut.

Wahai Pencipta! Alam ini menggema untuk Mu. Langit, Bumi, Matahari, Bulan tunduk padamu, tapi mengapa engkau jadikan aku seperti darah, yang bumi pun tak sudi untuk menerimaku. Awalnya hanya ada seribu busa ocehan dalam benakku, menunggu sebuah keadilan dan kebenaran dalam rentetan hidup ini datang menghampiriku, kebenaran itu tak bisa didefinisikan secara konkret, kini akulah yang harus menghampiri kebenaran.

Maka jangan sekali-kali berikan aku sebuah cerita kebahagiaan, tapi berikanlah kabar penderitaan. Aneh, semua orang berkata aneh, apakah yang bisa orang katakan tentang diriku. Gila. Aneh. Sinting, ku tak peduli cuapan mereka, karena mereka tak mengenal diriku. Berani – beraninya mereka mendakwa seseorang seperti itu.
Aku bahagia dengan segala penderitaan itu. Kini munculah saat itu, telah ku masukkan picisan pelangi itu dalam botol. Kusimpan itu di sudut jendela dimana tiap hari ku menunggu Hujan, fajar telah hilang beserta jiwaku yang diambilNya. Ku goreskan tinta picisan pelangi itu dalam botol jauh hari sebelum aku melanglang ke dunia lain, yang setiap detik, menit, jam, hari, bulan bahkan tahunan tetap di pojok itu, menggantikan tiap asaku yang hilang kala itu. Biarlah pelangi picisan itu hidup menyimpan separuh jiwaku,

 

Ragaku hilang
Namun jiwaku tenang
Jiwa itu tetap bersama picisan pelangi dalam botol
Membiaskan perih jalannya takdir
Takdir yang tersirat
Berubah menjadi tersurat
Ketika asa menjadi derita
Derita yang bahagia
Bahagia tak terjaga
Terjaga yang menjaga
Biasan yang tak terbias
Itu adalah aku
Aku adalah deritaku
Deritaku adalah masa
Masa yang terlupa
Terlupa yang menjadi bahasa
Bahasa sebuah pengharapan

Dalam rangka penerimaan anggota baru, Lite3 mengadakan Pendidikan dan Pelatihan disingkat Diklat. Diklat ini dilaksanakan antara tanggal 22 Oktober sampai dengan 08 November 2009. Berikut ini adalah tanggal pelaksanaan Diklat Lite3 yang telah disepakati bersama 8Lite.

Diklat Pertama –> 22 Oktober 2009

Diklat Kedua –> 23 Oktober 2009

Diklat Ketiga –> 01 November 2009

Diklat Keempat –> 02 November 2009

Diklat Kelima –> 04 November 2009

Diklat Keenam –> 07 November 2009

Diklat Puncak –> 08 November 2009

kupu.kupu malam … apaan sih! konotasina nu mana? apaan yang mau dibahas?

assalamualaikum sadayana….

kupu-kupu malam sering kita denger, apalagi ada lirik lagunya,”ini hidup wanita si kupu-kupu malam,bekerja bertaruh seluruh jiwa raga…….” ya ampunnn…

paradigma kupu-kupu malam itu sangatlah negatif bagi kalangan banyak orang, kupu-kupu malam yang bahasa kasarnya itu pe**k, pramu nik**t, dan opini yang laen –laen. itu kita sebutkan karena hal tersebut awalnya dianggap tak lumrah dan tak wajar. memang kupu-kupu malam ini seharusnya tidak ada tapi kita jangan berparadigma negatif akan pelaku kupu-kupu malam tersebut. coba kita tilik masalahnya.

pelaku tuna susila itu bukan tak bermoral tapi mereka bermoral, hanya saja mereka terpaksa melakukan itu. sebenarnya jauh dari dasar hati mereka, mereka najis… dan demi Allah tak mau bekerja seperti itu. meskipun perbuatan itu salah namun kita jangan menyalahkan sepenuhnya mereka karena mungkin pengaruh lingkungan yang membuat mereka mantap membulatkan tekadnya untuk bekerja demikian demi menghidupi orang-orang terkasihnya…

kita sering bilang, ”amit -amit ih psk teh.” atau “ah najis lo,” dan laen-laen. tahukah kamu, para kupu-kupu malam itu membutuhkan dorongan dari kita tapi kita selalu menghujat mereka…

pernahkah kalian berpikir apabila kalian ada di posisi mereka? oh ataukah kalian berfikir, kenapa kaga nyari pekerjaan yang halal dan yang laen sih? good question!

begini, hidup mereka tak seberuntung kita. kita terus saja berfoya-foya dengan harta yang kita miliki dan kita dengan mudah memperolehnya. tapi mereka mendapatkan uang seperak, 2 perak lewat hujatan dan direndahkan harga dirinya. mereka ya paling lulusan smp maksimal (bagi kalangan tidak mampu), mau cari pekerjaan apa di jaman yang edan ini? bukan maksud menyalahkan pemerintah namun tanpa kita sadari adapun kita sadari kemiskinan udah bertebaran. rakyat kurang di perhatikan, phk-wan dan phk-wati dimana-mana. jadi mereka mengambil langkah itu. mau ngamen tetep-tetep aja ada preman jalanan yang beuhhh…kejam! kalian pasti tau hidup di jalanan itu kejam kan?

coba kita tilik para kupu-kupu dari kalangan tidak mampu. mereka melakukan itu karena mereka brokenhome parah dan salah pergaulan. coba aja dia tak salah pergaulan bisa selamat…

oke, kawan. tak seharusnya kita menganggap rendah kupu-kupu malam itu (meskipun itu pekerjaan yang….). seharusnya kita kudu memberikan spirit pada mereka, jangan langsung menghujat tanpa tau alesanna dan sebabna. mereka manusia yang pasti pernah salah. mereka manusia yang butuh dibimbing. mereka manusia yang tak mau di injak-injak harga dirinya. mereka manusia yang ingin hidup normal seperti kita… pekerjaan itu salah tapi mereka lebih terhormat dibanding kita apabila kita terus mencemooh mereka. marilah kita rangkul saudara-saudara kita. berilah mereka kesempatan untuk bergabung bersama kita. apabila kamu benar-benar berhati nurani, yuk kita jauhkan paradigma terlalu negatif kupu-kupu malam itu. kita harus tebarkan misi kemanusiaan. mereka itu juga manusia, kita taklah mengetahui sedikitpun tentang mereka, perjalanan hidup mereka. mereka amat tersiksa dengan hidupnya karna mereka kita ada untuk berbagi kasih sayang. mereka berubah karna kita yang mengubah. tak ada yang mengajari dan diajari dalam hal ini tapi yang ada sama-sama mempelajari.

DARI MEREKALAH KITA BISA BELAJAR BAGAIMANA MENSYUKURI HIDUP…

Assalamualaikum sadayana…..
Kumaha damang?
Bahaahaaaa…….

Sahabatku berkaa dalam sebuah forum,’kita itu terpuruk ditengah kemajuan jaman,sedangkan orang tua dulu,bangkit ketika keterpurukan jaman’,..two thumbs for my best friend…

Bener pisanlah eta,kata-kata,bayangkan oleh kita jikalau mentalitas orang terdahulu seperti kita,apa kah kita bisa merdeka!apakah kita bisa bersenang-senang seperti ini,dilenakan oleh kebebasan sedangkan orang yang berjuang pada saat itu tak dihargai oleh kita,dan malah kita mengumpat-ngumpat,atau merasa tidak bangga menjadi bangsa indonesia!!sekali lagi buka mata kita,yang membuat kita tak bangga dengan negara ini adalah kita sendiri,karena telah keroposnya mentalitas anak bangsa,bayangkan orang tua jaman dulu,berjuang demi anak-cucunya,mempertaruhkan seluruh jiwanya ,agar kita menikmati kemerdekaan,tapi apa yang kita lakukan?..bilang saya tidak bangga menjadi bangsa indonesia….saya kecewa,kata itu terlontar dari teman saya,…sedikitnya dia harus memikirkan para pejuang itu…entah mengapa alasan ia berkata seperti itu,kita jangan hanya bisa mengeluh,tapi kita juga harus turut menyumbang sesuatu yang mampu,membangun negara ini agar makmur dan sejahtera…., boleh mengeluh jikalau kita telah menyumbang sesuatu yang berarti demi negara ini….bahaahaa sory…jadi menggebu-gebu,

Ada suatu kasus yang nyata… MENTALITAS DIBAWAH DOLLAR!
Beuh…dijaman yang semerawaut ieu,dijaman anu gelo ieu ,teh aya-aya wae mentalitas dihandap duit….cep..cep.cep
Kumah ibu pertiwi heunteu nangis,coba !pasal-pasal hukum,kaidah-kaidah hukum sok dipake kedok ku penjahat hukum atawa penjahat politik,waspadalah…jikalau kita bodoh atau masa bodoh pada yang namanya hukum-hukum…beuh bahaya kawan kita bisa di monopoli…ku aparat,meskipun kaga semua aparat kaya gtu,…nih cerita nyata dari aparat yang kaga pantes kita contoh…ketika ada sengketa kasus pembongkaran rumah…kepala aparat ini turun serta kelapangan…cihuy siga naon wae turut serta kalapangan,maen gusur,ngaruksak tanpa hati nurani..,ngabongkar saenakna..,padahal manehna teh ngadahar duid ti rakyat…,bahaahaaa….,boleh maen bongkar tapi kudu NGAGANTI atawa mikirkeun tempat keur gantina ,yeuh eta aparat teh ngasisieunan jeung ngabobodo hiji kaluarga,untung my father datang(bukan sombong ieu mah)….jurnalistik is my soul..like as my father ,ayah saya banyak kenalan dengan aparat setempat dan pejabat tinggi laennya dan ayah saya mengerti sedikit banyaknya tentang hukum,aparat itu berkata,’saya melakukan ini atas dasar hukum dan perintah,’beuh…atas perintah dibayar maksudna…bahaahaaa,..ayah saya mendebat aparat itu sehingga aparat itu diam seribu bahasa…bahaahaa…,ketika ayah saya meminta surat bukti pada orang yang meminta kepala aparat itu menurunkan bawahanya,orang itu malah lari….,beuh dan lebih mengejutkan lagi ada salahsatu aparat yang berkata,’andai aja ada .. gergaji besi…ini bisa dikilo nih…’beuhhh aparat begaol…udah bikin rakyat menderita eh malah mau ngilo…aduhh oja..parah..,dan berkata pada wartawan televisi,’mereka mundur karena suasana memanas’beuh hahahaa…yang ada faktanya..mereka tak punya izin…ehm tapi yasudahlah….akhirnya pihak lawan negosiasi dan memberi uang ganti,untuk mengganti kerusakan yang telah terjadi…

Beuh mau dikemanakan bangsa ini kawan…,kita memimpikan pemimpin dan aparatnya anu bener pisan…jangan asal-lulus akademi militer..,harus dites juga prilakunya…aparat yang saya ceritakan diatas hanya bisa malu-maluin…,dapet untung disaat rakyat menderita,beuh kawan dengan mentalitas yang good kita mampu menghadang kejamnya jaman…., mentalitas adalah amunisi ampuh untuk mematikan penyakit-penyakit penjahat hukum..,mentalitas dengan ’say no to DOLLAR’,mampu menjadikan kita menjadi orang yang adil dan bijak…kaga ada habisnya kalau kita ngomongin tentang mentalitas…beuh otak orang indonesia sebenernya edan…edanlah,pinter-pinter namun mentalitas kita kudu dibenahi dulu…agar jatoh-jatohnya kaga salah ambil langkah…,apabila mentalitas kita udah bobrok yaudah tinggal bilang selamat jalan indonesia…anda akan menuju kehancuran yang abadi…..dan berakhir the end….,jangan biarkan karena uang berbicara mentalitas menjadi pendusta….bahahaha..udah dulu ah…aku na lagi males mikir…
Mari kita hilangkan penjahat-penjahat yang berkedok hukum dengan satu kalimat,’mentalitas tanpa sogokan is our choice’,ambeh…kita maju ditengah kemajuan jaman…MERDEKA!agar merdeka secara nyata dalam berbagai aspek terealisasikan.

Yu ah assalamualaikum..to be continued

Tulisan Sebelumnya »